Jadi siapa yang disalib ?

Kalau mau membaca tulisan ini
terlebih dahulu pembaca dituntut
ketulusan hati
dan pikiran yang netral.

.Tulisan ini bukan pelajaran Agama !


.

Di Akhir zaman ini, hampir semua orang bahkan hampir di semua tulisan pada situs jaringan Internasional/ Internet, dimana "kisah penyaliban" dijadikan sebuah "PERDEBATAN".


APA PENYEBABNYA ?
.



Akibat pembaca meremehkan Al Quran (Q.25:30),
maka menimbulkan protes terhadap kisah penyaliban
Yesus Kristus di Injil.







Bukti bahwa Al Quran adalah
kitab yang sempurna”.

Karena setiap pembaca  Al Quran  dapat menghasilkan
kesempurnaan” dalam hal  untuk memilih
percaya ataupun menyangkal  tentang kisah
peristiwa penyaliban dimasa lalu.

Oleh karena itu Al Quran disebut kitab yang “Hak”
dari Allah untuk diberikan “hak kebebasan”
memilih bagi manusia tanpa paksaan,
sehingga "sempurna" apapun pilihan pribadinya !



.




Coba kita teliti kembali ayat tentang penyaliban
Nabi Isa.
di Q.4 :156 dan Q.4 : 157.




Al Quran surat 4 . AN NISAA’ ayat 156 : Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), > (tanda koma adalah indikasi hubungan dengan ayat selanjutnya, diawali huruf kecil ).


Ket:
1 - Jelas kalau kita perhatikan di ayat tersebut Q.4:156, bahwa mereka adalah orang yang kafir terhadap Isa !

       2 - Jadi siapa yang terbilang kafir terhadap Isa di zaman itu ?
            Yang pasti bukan kaum Nasrani maupun Muslim !

2a- Yang paling utama harus kita mengerti makna yang ada di ayat 156 yaitu untuk menekankan bahwa pembaca Al Quran orang Mu'min (berpikiran "netral") dan orang Nasrani tidak'lah kafir seperti mereka sejak dizaman itu bahkan sampai pada hari ini !
.
Oleh karena itu penjelasan di ayat 156 supaya kita tanggap terhadap isi dari ayat selanjutnya 157, agar semua orang di dunia sampai dengan hari ini selalu waspada akan "ucapan mereka yang kafir!"
.
3 - Coba kita lanjutkan ayat berikutnya dengan indikasi di ayat 157, bahwa merekaadalah (orang kafir) !




Al Quran surat 4.AN NISAA’ ayat 157 :

dan karena ucapan mereka  : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka (orang kafir) tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib nya, tetapi ( yang mereka / orang kafir bunuh ialah ) orang yang di serupakan dengan ‘Isa bagi mereka (orang kafir). Sesungguhnya orang-orang yang berselisi paham tentang ( pembunuhan ) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka (orang kafir) tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka (orang kafir) tidak ( pula ) yakin bahwa yang mereka (orang kafir) bunuh itu adalah ‘Isa.
.


Ket : Kalau kita meyakini Al Quran Wahyu / perkataan Allah disampaikan oleh Jibril , karena Allah Maha Tahu maka jelas isi dari Q.4:157 adalah bukan pendapat Allah yang mengatakandi serupa kan dengan ‘Isa”, melainkan jelas pendapat tersebut sumbernya dari "Ucapan mereka" orang-orang yang kafir terhadap Isa (gambaran Yesus) di zaman itu !
.
Ucapan tersebut dilakukan karena mereka menghendaki supaya orang-orang di zaman itu terpengaruh menjadi kafir seperti mereka, hal tersebut sudah terlebih dahulu ditegaskan di Q.4:89. 


Karena Allah Maha Tahu maka di zaman itu diturunkan ayat tersebut Q.4:156 & 157 jelas untuk menjabarkan keadaan / situasi dimana semakin marak nya isyu yang beredar akibat ucapan yang keluar dari mulut orang kafir yang mempunyai penyakit dalam hatinya.

Dimana mereka itu adalah keturunan yang dari leluhur nya dulu memang sudah kafir terhadap Yesus Kristus, sehingga mereka orang-orang di zaman itu yang tidak mau membaca Injil Kristus.


Oleh sebab itu Al Quran di Q.4:157 menegaskan kembali bahwa mereka ragu-ragu, tidak yakin kecuali mengikuti prasangka belaka tentang kisah penyaliban Isa  (figur Yesus Kristus) dimasa silam, yang di ceritakan dengan menggunakan NAMA Isa !

Kalau dilihat dari sejarah di zaman itu, dimana Rasul Muhammad orang yang pertama menerima ayat tersebut, sehingga isi Q.4:156-157 sangat "masuk akal" bahwa mereka yang kafir ialah mayoritas orang-orang keturunan Yahudi yang mempunyai rasa dengki terhadap kisah Yesus Kristus 600 tahun silam yang tertulis di Injil.

Yang lebih penting perlu di perhatikan dari makna ayat tersebut (Q.4:156-157), yaitu bertujuan supaya semua pengikut Rasul Mahammad jangan sampai tertipu oleh "karena ucapan mereka" yang kafir terhadap Isa nabi pembawa Injil / Yesus Kristus !



Oleh karena dalam Q.4:156 yang dimaksud orang kafir dalam ayat tersebut bukan orang Mu'min dan juga bukan orang Nasrani, maka bisa disimpulkan bahwa yang kafir adalah orang keturunan Yahudi di zaman itu !



Oleh karena itu mohon maaf sebelumnya bagi semua kalangan, saran untuk lebih mudah dimengerti tentang penyaliban di Al Quran surat 4:156 & 157, maka dalam membaca ayat tersebut suku kata "orang kafir" coba kita baca digantikan dengan suku kata "Yahudi" dan untuk nama "Isa" coba kita ganti dengan nama "Yesus", dengan demikian jelas artinya bahwa :"karena kekafiran Yahudi terhadap Yesus dan karena ucapan "Yahudi", maka ceriteranyapun "bagi Yahudi !"saja, berarti bukan bagi Allah Yang Maha Tahu !                                                                                                                                                  


Kesimpulannya oleh karena dizaman itu mayoritas keturunan "Yahudi" sudah kafir / tidak percaya / tidak yakin terhadap Yesus, maka jelas dengan dasar tersebut keturunan kaum Yahudi (mereka) dalam ayat tersebut pasti tidak yakin bahwa yang dibunuh / disalib itu "Yesus !", oleh karena itu "Yahudi" (mereka
) selalu membantah tentang penyaliban Yesus!

jadi makna ayat tersebut merupakan suatu peringatan kepada semua orang terutama di jazira Arab di zaman itu, dan oleh karena ayat tersebut tetap berlaku hingga kini, jadi tanpa kita sadari ayat tersebut sebagai peringatan juga bagi kita dan semua orang di dunia saat ini, agar waspada jangan terpengaruh tipu muslihat orang yang kafir terhadap Isa (gambaran Yesus Kristus)


Jadi jelas kalau kita perhatikan Q.4 156 walaupun isinya singkat tetapi diakhiri dengan tanda koma, yang berarti masih berhubungan erat dengan ayat berikutnya, dimana ayat berikutnya diawali kata-kata pembuka : dankarena ucapan mereka”, hal ini ber tujuan agar pembaca lebih mudah dan jelas membedakan bahwa isi ayat 157, Jibril menyampaikan ucapan mereka yang kafir”, intinya : di serupakan dengan Isabagi mereka !”

Dengan demikian jelas kata-katabagi mereka menunjukan cerita tersebut tidak bisa di per tanggung jawab kan kebenarannya, karena sumbernya dari mereka yang kafir terhadap Yesus Kristus di zaman itu , dan mereka bukan saksi hidup, sebab disaat Al Quran diturunkan peristiwa penyaliban sudah 600 tahun berlalu.


Oleh karena itu di dalam Al Quran selalu diulang-ulang penjelasan bahwa "Allah Maha Tahu", jadi jelas sekali karena Al Quran Wahyu Allah, maka sudah pasti "Allah Lebih Tahu" tentang kisah peristiwa penyaliban Yesus Kristus 600 tahun yang lalu dibandingkan "mereka yang kafir" itu.

Dimana mereka adalah keturunan dari orang-orang Yahudi yang leluhur nya tidak mau mengakui Yesus Kristus berasal dari Allah.

Hal itu tergambar dalam Al Quran bahwa Roh Allah menjelma jadi manusia, di Q.19:17 yaitu : maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Oleh karena dari awal leluhur mereka tidak mau mengakui asalNya Yesus, akan tetapi kenyataannya Yesus membuktikan diriNya kembali ke Surga setelah bangkit dari kuburNya (tergambar di Q.19:33), dengan demikian leluhur mereka mengarang cerita bahwa "Yesus tidak disalib tetapi di serupai", hal itu di pertegas tergambar di Q.4:156-157 bahwa cerita tersebut hanya versi mereka saja, ( "karena ucapan mereka" >> "bagi mereka" )
.
Jadi selama ini apakah kita mau percaya begitu saja ?, sehingga dengan mudahnya kita menelan mentah-mentah ucapan mereka !
.
Oleh karena itu sebuah dilema yang telah terjadi turun-temurun hingga saat ini, yaitu dimana kenyataan sejarah yang telah terjadi, dan kenyataan dari pendapat para pembaca Al Quran sampai saat ini tetap menolak bahwa Yesus Kristus tidak disalib.
.
Hal ini disebabkan semua pembaca Al Quran lebih mudah percaya akan perkataan / pengakuan dari mereka keturunan Yahudi, memang sejarah membuktikan bahwa bukan orang Yahudi yang menyalibkan Yesus Kristus tetapi orang-orang Yahudi disaat itu (zaman Yesus) sebagai provokator, akan tetapi yang melakukannya dari mulai penangkapan Yesus, penyiksaan sampai eksekusi di tiang palang salib semua dilakukan oleh para prajurit Romawi.
.
Oleh karena itu kalau orang-orang keturunan Yahudi di dalam Al Quran berkata: "kami tidak menyalibkan Isa (figur Yesus Kristus)", hal itu memang benar jika dilihat dalam kisah Yesus di Injil, akan tetapi bisa disimpulkan keadaan mereka keturunan Yahudi yang tetap "kafir terhadap Yesus" (di zaman awal Al Quran) terkesan hendak "cuci tangan" terhadap peristiwa penyaliban Yesus Kristus di zaman nenek moyang mereka yaitu beberapa ratus tahun yang silam sebelum ada Al Quran.
.
Jadi keadaan sekarang bisa disimpulkan bahwa semua orang Mu'min lebih percaya perkataan Yahudi yang hendak "cuci tangan" dari pada kebenaran sejarah yang membuktikan akhirnya Yesus Kristus tersalibkan juga yang dilakukan oleh para prajurit Romawi.
.
Itulah sebabnya kalau kita tidak mau membaca Injil dengan teliti, sehingga kita menyangkal bahwa Yesus Kristus disalib !, apakah kita tidak sadar akan tipu daya dari mereka yang kafir terhadap Yesus Kristus, sejak zaman itu ?
.
Dengan demikian jelas, itulah sebabnya mengapa sejak awalnya Kitab Suci Al Quran harus dikaji bukan sekedar asal dibaca saja !

Jadi dizaman itu cerita dari orang-orang Yahudi yang kafir terhadap Yesus bertujuan untuk membantah kebangkitan Yesus dari kuburNya, hal itu jelas di dalam Injil dimana Yesus wafat sebagai anak manusia di kayu salib.

Maka disaat ini setiap orang yang percaya terhadap cerita bohong tersebut seperti yang dikatakan Jibril dalam Al Quran 4:156-157, berarti orang tersebut termakan tipu muslihat orang kafir, akibatnya mereka sekarang beranggapan seperti mereka di zaman itu, "katanya" Yesus Kristus tidak bangkit.

Sebab kalau kita lihat sejarah dalam Injil, maka dari makna ayat Q.4:156-157 bisa terjawab akan tipu muslihat orang kafir yang bertujuan supaya orang - orang di zaman itu terpengaruh agar menyangkal Kebangkitan Yesus Kristus dari kuburNya.

Sehingga orang-orang di zaman itu yang terpengaruh mereka berpendapat: bagaimana mungkin ada kebangkitan sedangkan disalib saja tidak pernah !

Oleh karena di ayat selanjutnya Q.4:158, yaitu: tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepadaNya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
.
Ayat tersebut (Q4:158) isinya jelas hanya memberikan penegasan secara ringkas, bahwa Isa diangkat Allah saja ( isi yang hakiki dari Q.4:158 : bukan diangkat untuk diselamatkan agar terhindar dari penyaliban )
.
Jadi karena ringkasnya isi dari ayat selanjutnya (Q.4:158), maka sekarang ini banyak para penafsir yang tidak mau membaca Injil Kristus berpendapat bahwa nabi Isa dihindari dari penyaliban, dengan demikian secara tidak langsung orang tersebut tanpa di sadari nya telah mendukung "ucapan orang-orang yang kafir terhadap Yesus" di zaman dahulu, seperti di Q.4:157.
Yaitu bermaksud membantah kebangkitan Yesus Kristus..

Ironisnya tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran yang menyatakan dengan tegas bahwa "Allah mengangkat nabi Isa untuk dihindari dari penyaliban", jadi jelas kalau ada yang berpendapat seperti itu berarti sudah menyimpang dari isi Al Quran yang sebenarnya.

Dengan demikian pendapat tersebut sudah meremehkan akan kenyataan yang ada dalam Al Quran.

Akan tetapi hal tersebut tidak mengherankan sebab sekarang ini keadaan dari pendapat orang-orang tersebut sudah diprediksikan sejak Al Quran diturunkan di zaman itu.





Ringkasan / kesimpulan tentang kisah penyaliban
di Al Quran.


Jadi sungguh jelas isi Al Quran surat 4 ayat 157 dan 156, dalam ayat tersebut hanya ada dua kubu yaitu yang percaya dan yang kafir, sedangkan pembaca (kaum Mu’min) diluar kubu tersebut sehingga jelas pada posisi netral !

"karena ucapan mereka", jadi mereka dalam ayat tersebut hanya orang-orang Yahudi yang berselisih paham yaitu antara keturunan Yahudi yang percaya dengan Yahudi juga yang tidak percaya / disebut kafir.

Oleh karena itu tergantung pembaca Al Quran untuk memilih salah satu dari ucapan mereka ! Apakah mau ikut ucapan mereka Yahudi yang percaya penyaliban 600 tahun sebelum ada Al Quran  (mereka Yahudi yang percaya penyaliban berkata : "sesungguhnya kami telah membunuh"), atau mau ikut ucapan mereka Yahudi yang tidak percaya (mereka Yahudi yang tidak percaya / kafir terhadap penyaliban masa lalu berkata: "diserupai”).

Dengan demikian terserah pembaca yang menyimak ayat tersebut, sebab dari awalnya sebelum Al Quran diturunkan bahwa yang meributkan tentang peristiwa penyaliban adalah mereka orang-orang keturunan Yahudi saja, jadi untuk apa kita ikut-ikutan mereka!

Kalau kita ikut mengatakan: "tidak disalib" artinya kita ikut dukung Yahudi yang kafir, dan kalau kita mengatakan: "disalib" berarti kita mendukung keturunan saksi hidup  Yahudi yang berasal dari daerah nazaret (tempat awal masa kehidupan Yesus Kristus) yaitu orang-orang yang disebut Nasrani dizaman itu atau sekarang disebut kaum Kristen apapun kelompoknya.

Jadi mulai dizaman itu (600 tahun setelah zaman/era Yesus Kristus) kitab Al Quran merupakan kitab yang hak dari Allah untuk diberikan hak kebebasan kepada umat manusia yang berserah diri kepada Allah (orang Mu’min) yaitu orang-orang yang berpikiran “netral” / tidak berpihak kepada  Yahudi kafir  ataupun kaum Nasrani, untuk memilih mana yang benar diantara keduanya ?

Oleh karena itu apapun hasil pilihan pribadi para pembaca Al Quran  akan "sempurna" karena tanpa paksaan !

Dengan demikian kitab Al Quran adalah kitab yang “sempurna” untuk menghasilkan pendapat setiap pembaca yang mengkajinya, baik itu percaya ataupun ikut menyangkal !

Ingat sekarang terserah anda setelah membaca Al Quran
mau mengikuti yang mana?

Di-ingatkan: Di zaman itu di jazira arab sebelum Al Quran diturunkan memang sudah terjadi perdebatan tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu antara sesama  orang-orang keturunan Yahudi saja, yaitu; orang-orang minoritas yang percaya kepada Yesus Kristus dan mayoritas yang kafir terhadap Yesus Kristus !



Prediksi tentang orang-orang tersebut terdapat dalam Firman Allah di Q.22:3, yaitu :Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat.

Prediksi yang ada di ayat tersebut membuktikan bahwa "Allah Maha Tahu" akan hati setiap orang yang hidup di zaman Al Quran diturunkan maupun hati setiap orang dimasa yang akan datang yaitu sekarang ini.

Jadi jelas keadaan sekarang bahwa pendapat orang-orang yang mengatakan Yesus Kristus tidak disalib, akibat tanpa membaca Kitab terdahulu yang merupakan Ilmu Pengetahuan sejarah, sebab yang dimaksud Ilmu Pengetahuan dalam ayat tersebut sudah pasti yang berhubungan dengan Kitab-kitab sebelumnya, dan yang lebih penting dalam ayat di Q.22:3 pada kalimat terakhir, tergambar bahwa sekarang ini mereka tanpa sadar di halangi ghaib, sehingga terpengaruh kekuatan ghaib jahat yaitu "roh dajal /syaitan", oleh sebab itu setiap mau membaca Al Quran dianjurkan / hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk (Q.16:98), (di luar Al Quran tidak dianjurkan).

Oleh karena itu "Akal" yang dapat menerima kenyataan, sebab segala sesuatu yang dipengaruhi ghaib tidak dapat diterima akal sehat manusia..
.
Kami mau ingatkan bahwa hal itu sudah ditegaskan di Q.22:8 yaitu: Dan diantara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.

Oleh karena ayat tersebut (Q.22:8) ada di dalam Al Quran yang kita baca, maka jelas makna dari ayat tersebut dengan ter samar agar orang harus membaca Injil, sebab hal itu sangat beralasan dengan ditegaskan nya di Q5:46 bahwa Kitab Injil di dalamnya ada petunjuk dan cahaya..

Jadi perlu kita ketahui, dimana kisah di Injil, dari mulai Yesus Kristus disalib sampai kebangkitanNya dari kubur kemudian terangkat naik ke Surga, kisah tersebut cukup rinci sehingga panjang sekali. . .

Maka dapat disimpulkan karena Allah Maha Tahu bahwa di tempat asalnya jazirah Arab dimana Kitab-kitab Allah diturunkan, walaupun orang-orang di zaman itu sudah banyak yang membaca Injil, tetapi karena terpengaruh "ucapan mereka orang-orang kafir" sehingga masih banyak pula orang-orang di zaman itu yang meragukan akan kebenaran Injil yang telah dibaca nya.

Oleh karena Allah Maha Tahu, maka Al Qur-an diturunkan, dengan ayat-ayatnya yang tegas dan cukup ringkas saja, sehingga Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan ( di pertegas di Q.36:69 ).

Agar semua orang (di jazira Arab) yang membaca Al Quran (Q.19:97), dapat mudah mempelajari kembali dengan menggunakan akalnya terutama cerita tentang nabi Isa (gambaran Yesus) supaya tidak terpengaruh dari tipu muslihat orang-orang yang kafir terhadap Yesus di zaman itu.

Hal itu jelas terlihat bahwa ayat-ayat dalam Al Quran tentang nabi Isa lebih mendominasi dibandingkan dengan ayat-ayat tentang nabi-nabi yang lainnya.

Dengan demikian jelas tujuan dari Al Quran diturunkan sejak itu agar semua orang dapat mempelajari sendiri dengan mengkaji nya, sehingga tidak perlu membahas tentang nabi Isa (gambaran Yesus dari sudut pandang sebagai sosok manusia) dengan orang lain, agar tidak terjadi perbantahan "hanya karena ucapan" yang berakibat pertikaian.

Karena tanpa kita sadari hingga saat ini, setiap mulut manusia yang membahas tentang "NAMA Yesus" pasti sangat riskan sekali terhadap gangguan / pengaruh ghaib jahat untuk menentangNya, sehingga berdampak perbantahan bahkan perdebatan yang berkepanjangan tanpa ada titik temu.

Oleh karena itu apabila kita sudah memahami dasar dari penjabaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Al Quran diturunkan sejak zaman itu sungguh jelas "bersifat Netral" (universal) untuk menciptakan suasana "DAMAI", supaya orang-orang awam di zaman itu yang masih bimbang tentang kisah Yesus Kristus, janganlah langsung percaya begitu saja terhadap ucapan orang yang kafir dan maupun orang yang sudah percaya (Nasrani), akan tetapi jalan keluar yang paling bijak untuk "menghindari perbantahan" yaitu pelajari dahulu dengan mendalam Kitab Al Quran secara "Pribadi", dengan teliti dan sangat hati-hati serta dilandasi fitrah diri, serta mengikuti himbauan untuk membaca Injil (tersirat di Q.5:68)

Setelah itu terserah, mau memilih untuk percaya yang mana ?


"Penjelasan" : Dimana kebangkitanNya merupakan pembuktian diriNya, agar semua orang akan sadar "Siapa Dia sesungguhnya !"

Jadi kebangkitanNya (secara total / raga) salah satu bukti bahwa Dia Manusia Illahi yang mempunyai Kodrat ke Illahi-an, dengan demikian Dia dapat melakukan apa saja terhadap dunia dan isinya !

Hal tersebut sudah dikatakanNya saat Dia hidup di dunia sebagai anak manusia, terdapat di Injil Yahya.14:11, dimana makna dari ayat Injil Yahya.14:11 tersebut menyimpulkan bahwa di waktu Yesus masih di alam dunia, segala mujizat besar yang dilakukanNya supaya orang-orang berfikir akan perbuatan itu, sehingga setiap orang menjadi ingin tahu" Siapa Dia sebenarnyaNya ?", karena segala mujizat besar / nyata tersebut tidak pernah dilakukan oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia ini, penjelasan hal tersebut tergambar dengan tersamar di Q.3:49.

Dimana mujizat di ayat tersebut dijelaskan seizin Allah, hal itu supaya pembaca berpikir akan tanda-tanda mujizat yang dilakukanNya, mengapa tidak ada nabi siapapun dalam Kitab Suci yang diizinkan Allah untuk melakukan mujizat besar tersebut ?
Jadi siapa “Dia” itu ?


Oleh karena Q.4:157 kisah tentang Nabi Isa, maka jelas ayat tersebut termasuk samar-samar Mutasyabihat.

Jadi kalu kita tidak hati-hati mengkaji nya maka kita akan mengikuti “ucapan mereka yang kafir” itu.


Perlu diperhatikan; walaupun anda mengkaji Al Quran dan membaca Injil Kristus tetapi hanya untuk  mencari perbedaan maka jelas hasil kesimpulannya akan bertentangan, jadi kajilah Al Quran dengan mencari persamaan dalam hal yang mendasar yaitu makna hubungan yang tersembunyi antara Al Quran dan  Injil, yang tidak lain tentang satu tokoh yang menyinggung soal Injil tetapi dengan dua nama yang berbeda  ( yaitu nama Isa dan Yesus).

Sebab kalau kita meyakini bahwa Allah itu Esa maka pada hakekatnya  tidaklah mungkin Al Quran diturunkan  mempunyai cara yang berbeda terhadap keselamatan manusia di akhirat.

Contoh ayat yang  sangat popular dikalangan umat Mu’min/ Islam yaitu  Q.2:120 sehingga umat Mu,min/Islam beranggapan sejak dahulu kaum Yahudi dan Nasrani mereka berhati dengki.


Q.2:120 ; Orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani  tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama merekaKatakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk  (yang sebenarnya)”Dan  sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamumaka  Allah  tidak  lagi  menjadi  pelindung  dan  penolong  bagimu.


Ayat tersebut di Al Quran jika dikaji seadanya tanpa  mendalami kitab  sebelumnya maka para pembaca akan menelan mentah-mentah arti yang nyata dalam ayat tersebut, sehingga para pembacapun akan terpengaruh isi dari ayat tersebut.

Oleh karena itu ayat diatas  kalau ditelan mentah-mentah oleh umat yang membacanya maka dapat membuahkan anti pati terhadap gambaran akan  kaum Yahudi dan Nasrani  sampai sekarang.

Pendapat tersebut bagi setiap orang Mu’min / Islam tidak dapat dipersalahkan karena apapun kesimpulan / keputusannya selagi masih hidup di dunia   “berpedoman tanpa paksaan”.

Dengan demikian sampai kiamat-pun kalau ayat tersebut tidak dipahami dengan bijak maka menjadi sangat sulit bagi umat Mu’min / Islam dari generasi ke-generasi (turun temurun)  untuk lebih dekat / percaya terhadap kaum Yahudi dan Nasrani/Kristen.


Coba kita selidiki ayat di Q.2:120 makna dari setiap kalimatnya:


1-      Orang Yahudi dan Nasrani mereka tidak akan senang kepada kamu jika kamu tidak mengikuti agama mereka

Kalimat tersebut bisa menimbulkan kesimpulan bahwa mereka Yahudi dan nasrani berhati dengki, tetapi perlu diingat dizaman itu di jazirah arab memang hanya ada mayoritas keturunan kaum Yahudi yang kafir terhadap Isa (figure Yesus) dan yang percaya / Nasrani, disaat itu  mereka saling memberitakan Iman kepercayaannya masing-masing, dimana hampir semua sifat manusia kalau kemauannya tidak diikuti maka hati yang bersangkutan pada umumnya tidak akan senang !


2-      Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk  (yang sebenarnya)”.

Kalimat diatas adalah menegaskan bahwa Al Quran’lah  sebagai petunjuk. Dimana arti dari petunjuk,  yaitu harus dibaca / dipelajari supaya tahu yang sebenarnya “arah yang dituju”.


3-      Dan  sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamumaka  Allah  tidak  lagi  menjadi  pelindung  dan  penolong  bagimu.


Kalimat diatas kita harus teliti  bahwa suku kata “mereka” tersebut pasti salah satu diantara Yahudi dan Nasrani jadi tidak akan mungkin kedua-duanya diikuti, oleh karana itu dapat dipastikan mereka (yang diikuti) dalam ayat tersebut mengacu pada kaum Nasrani sebab tertulis “setelah pengetahuan datang kepadamu”  yaitu membaca Injil  maka pembaca Al Quran yang juga membaca Injil akan mendapatkan kesamaan di dalam kedua kitab tersebut, yaitu mengenai satu tokoh yang telah diberi kuasa terhadap Sorga dan Bumi, sehingga segala keselamatan terhadap manusia di akhirat sudah diserahkan kepada seorang sosok nabi pembawa Injil yaitu Isa (gambaran dari Yesus Kristus) dengan demikian jelas bahwa Allah dalam ayat tersebut  tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu!

Oleh karena itu kalau kita tidak mau membaca Injil dengan benar maka kita tidak akan tahu mengapa dalam kalimat di ayat tersebut menekankan dengan kata “tidak lagi menjadi …..”?

Jadi  jika kita setelah membaca ayat tersebut kemudian menduga kalau orang mengikuti kaum nasrani maka Allah akan marah tidak lagi menolongmu, berarti pemahaman kita sangat keliru.

Sebab berulang-ulang dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah Maha Bijaksana dan kitapun mengakui bahwa “Allah Maha Bijaksana” dengan demikian tidak akan mungkin Allah Yang Maha Bijaksana serta Maha Pengasih dan Pemurah akan kejam tidak mau menolong umatNya.

Karena makna dalam ayat Q.2:120  hanya ringkas adanya, sehingga bagi yang tidak membaca Injil dengan benar akan keliru karena makna yang sesungguhnya akan sulit dipahami.


Oleh karena itu pemahaman dalam ayat Q.2:120  jika ditinjau dengan bijak tentang   hubungan Al Quran dengan Injil maka maknanya akan jelas dengan kesimpulan yaitu;  Jika kamu sudah mendapat petunjuk melalui Al Quran  di Q.5:68 supaya membaca Injil, maka kamu akan mengikuti mereka yaitu  kaum Nasrani, berarti mengikuti mereka atas kemauan sendiri karena setelah pengetahuan datang  kepadamu dari kitab Injil bahwa Yesus Kristus telah diberikan oleh Allah “segala kuasa Sorga dan Bumi” dan kamu akan lebih yakin bahwa Al Quran surat 3:45 menegaskan kembali hal tersebut,  dimana sosok nabi pembawa Injil yaitu Isa Putera Maryam hanya seorang saja yang terkemuka dunia dan akhirat, dengan demikian kamu akan sadar  bahwa sejak itulah (600 tahun sebelum Al Quran diturunkan)  Yesus Kristus mulai  menjadi penolongmu. Maka 600 tahun kemudian Al Quran mengingatkan kembali bahwa Allah tidak lagi menjadi  pelindung dan penolong bagimu karena segala kuasa termasuk keselamatan jiwa’mu (manusia) di akhirat sudah “di tangan Yesus Kristus”, oleh karena itu Dia disebut Juru Selamat manusia.

Itulah penjabaran panjang lebar yang ditinjau dari “hubungan tersembunyi” antara Al Quran dan Injil, jadi tidak heran kalau ada orang mengatakan bahwa: “Al Quran ringkasan dari Injil”.





Jadi kesimpulan dari Q.2:120 jika ditinjau dari hubungan antara Al Quran dan Injil:

Kalimat 1: Sifat manusia kalau tidak tercapai akan kecewa / “tidak akan senang”.

Kalimat 2: “Petunjuk” dari Allah adalah Al Quran, dimana salah satu ayatnya (Q.5:68) himbauan untuk membaca Injil.

Kalimat 3: Kalau  “mengikuti” salah satu dari mereka yaitu kaum nasrani atas kesadaran pribadinya dikarenakan sudah mendapatkan  “pengetahuan” dari kitab Injil bahwa  Allah tidak lagi menjadi penolong karena segala kuasa atas keselamatan semua manusia yang ada di bumi menuju ke akhirat sudah diberikan kepada Yesus Kristus (Isa di Al Quran).





Itulah salah satu ayat Mutasyabihaat (Q.2:120), dimana ayat Mutasyabihaat jika diyakini  tanpa dipelajari terlebih dahulu secara mendalam maka yang bersangkutan akan menggunakan ayat tersebut untuk menimbulkan fitnah, ironisnya hal itu sudah ditegaskan di Q.3:7.

Penjabaran diatas berdasarkan pemahaman bahwa “Al Quran menegakkan kebenaran  yang berarti: kebenaran terdahulu (yang sudah ada) ditegakkan kembali, jadi harus diingat  Al Quran bukan menegakkan kesalahan !!!

Oleh karena itu tulisan dalam blog ini merupakan fakta adanya “hubungan tersamar” antara ayat-ayat tertentu di dalam Al Quran terhadap sebagian dari ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab sebelumnya yaitu kitab Injil.
Dimana ayat-ayat tersebut bertujuan membenarkan kitab sebelumnya dan hal itu sudah ditegaskan dalam Al Quran surat 12 YUSUF:111.


Q.12 YUSUF : 111 yaitu; Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.


Sekalipun pembaca blog ini tidak mau mengakui adanya faktahubungan tersamaryang bertujuan membenarkan kitab sebelumnya (Injil), berarti pembaca telah mendustakan ayat-ayat di dalam Al Quran yang mengandung makna tersebut.
Hal itupun tidak diherankan sebab “Allah Yang Maha Tahu” sehingga sudah memprediksikan akan isi hati dan pikiran pembaca Al Quran dikemudian hari (tersirat di Q.69:49).


Q.69:49
Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).


Jadi jelas ayat diatas menimbulkan suatu pertanyaan: Ayat apa dalam Al Quran yang didustakan oleh pembacanya?


Jawabnya: Tanpa sadar bahwa ayat  Al Quran yang didustakan oleh pembacanya  adalah ayat  yang membenarkan kisah nyata kehidupan terhadap figur “manusia suci”  yang terdapat  pada kitab sebelumnya (yaitu:  “Injil Kristus”).


Oleh sebab itu Al Quran menegaskan di Q.3:7 bahwa ayat Mutasyabihat dapat menimbulkan Fitnah.
Dengan demikian untuk menghindari perbuatan fitnah, maka jenis ayat tersebut harus diselidiki terlebih dahulu
 makna dan maksudnya.

Contoh ayat  Q.19:33-34, di ayat ini hanya menggambarkan pengakuan Isa dibangkitkan kembali, dan ayat 34 menjelaskan orang akan berbantah-bantahan tentang kebenarannya, ayat 34 ini adalah gambaran dari isi  Injil Lukas.2:34.

Jadi makna dari ayat-ayat tersebut, apakah kita mau percaya nara sumbernya yaitu tergambar Q.19:34?, dan apakah kita mau percaya “karena ucapan mereka yang kafir” yang tergambar di Q.4:157 ?

Itulah ayat-ayat yang merupakan petunjuk yang kita dapatkan dalam Al Quran, sekali lagi diingatkan bahwa kita diberi kebebasan untuk memilih petunjuk yang ada dalam ayat-ayat Al Quran tanpa paksaan.

Oleh karena itu kalau kita tidak memahami isi dari Q.4:157 kemudian melihat isi dari Q.19:33-34, dimana ayat tersebut termasuk Mutasyabihat, maka kita akan bingung sendiri, bahkan tanpa di sadari akan timbul argument dengan berbagai macam alasannya untuk memaksakan pembenaran ayat Mutasyabihat tanpa terlebih dahulu menganalisa dengan lebih dalam.


Jadi kalau kita sudah mengerti duduk persoalannya, maka bisa disimpulkan di zaman itu maksud Al Quran diturunkan untuk : menegak kan kembali kisah di Injil bahwa Yesus berasal dari Allah (tergambar Q.19:17), Yesus mati dan bangkit (tergambar di Q.19:33)


Maka Al Quran diturunkan di zaman itu memberikan penerangan secara ter samar kepada semua pembaca, bahwa orang-orang yang kafir terhadap Yesus di zaman itu berusaha membantah akan kebenaran kisah sejarah kedatangan dan kebangkitan Yesus Kristus yang tertulis di Injil.

Hal itu tergambar di Q.4:156-157, dimana ayat tersebut membongkar kedok tipu muslihat orang-orang kafir dengan menjabarkan cerita yang dikarang bagi mereka.

Karena Allah Maha Tahu, jadi tidak di heran kan kalau ayat tersebut tergolong Mutasyabihat sehingga dapat menimbulkan fitnah, kenyataannya hampir semua orang Mumin tanpa pernah membaca Injil, mengatakan “ Yesus tidak disalib !”

Sehingga Q.4:157 suatu dilemma dari generasi ke generasi, terutama kebanyakan dari mereka para pendengar.

Jadi jelas sekali, kalau pembaca Al Quran tidak pernah membaca Injil Kristus, sampai kapanpun apabila mengkaji ayat tentang Isa, maka akan mendapatkan pertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya.

Dimana Injil adalah catatan sejarah kehidupan Yesus Kristus sampai diakhir hidupNya mengalami penyaliban, maka “Dia” mati sebagai anak manusia dan pada hari ke tiga bangkit kembali dari antara orang mati.


Jadi setelah 600 tahun Injil tersebar di jazira Arab, di zaman itu Al Quran diturunkan mengisahkan keadaan nyata sebagian orang-orang ada yang percaya dan ada pula yang ragu-ragu tentang penyaliban Yesus Kristus, hal itu akibat pengaruh berita bohong (Injil Matius 28: 1-15), oleh “karena ucapan mereka” itu, sehingga telah menimbulkan prasangka belaka diantara mereka, yaitu orang-orang yang kafir terhadap Yesus Kristus !


Dimana kisah awal berita bohong tersebut terjadi 600 tahun sebelum Al Quran diturunkan, yang tercipta atas prakarsa imam –imam kepala orang Yahudi saat itu, yang tidak bisa menerima kenyataan setelah mendengar dari prajurit bahwa “Yesus Kristus bangkit dari kuburNya”, sehingga mereka berunding dan melakukan KKN dengan saksi hidup yaitu para prajurit penjaga kubur, dengan memberikan sejumlah uang perak, agar mengatakan kepada semua orang :,,Katakanlah oleh mu: ,murid-muridNya datang pada malam, tengah kamu tidur, serta mencuri “Dia”. (Injil Matius 28:13)

Maka masyur lah perkataan ini diantara orang Yahudi hingga sekarang ini. ( kesimpulan kisah tersebut dari Text Injil 1971)

Oleh karena itu tidak mengherankan, hingga saat ini di seluruh dunia masih akan timbul berbagai macam usaha yang bertujuan untuk membantah akan kebenaran sejarah kebangkitan Yesus Kristus dari kuburNya.

Jadi dengan tegas sejak dulu surat Q.4:157 sudah menjabarkan usaha mereka yang kafir, agar kita semua harus waspada !

Jika dianalisa dengan teliti berdasarkan sejarah, maka cerita yang ada di ayat tersebut tidak bertentangan dengan Injil, sebab tidak mungkin Al Quran mengisahkan Isa disalib, karena kebenaran sejarah yang disalib adalah NAMA Yesus Kristus, yang pristiwa nya 600 tahun sebelum Al Quran diturunkan !

Jadi siapapun yang pengkaji Al Quran, lalu mengatakan Q.4.157 bertentangan dengan Injil, berarti mereka langsung menelan mentah-mentah arti tulisan di Q.4:157, tanpa dianalisa dengan lebih dalam dan lebih teliti, serta tanpa ilmu pengetahuan sejarah terdahulu.


Begitu pula kalau orang Nasrani membaca Al Quran dan mengatakan ayat di Q.4:157 bertentangan dengan Injil, berarti orang tersebut belum benar-benar memahami Injil nya terutama Injil Matius pasal 28, yang mengisahkan "Dusta Mahkamah Agama".

Dimana perbuatan dusta yang dilakukan "Mahkamah Agama" merupakan awal terjadinya kebohongan disaat itu, sehingga berdampak sampai saat ini.


Sebab : Justru Q.4:157 menceritakan situasi di zaman itu, dimana berita bohong disebarkan oleh mereka yang kafir terhadap Yesus akibat dari perbuatan dusta Mahkamah Agama dulu, yang dilakukan 600 tahun yang lalu terhitung dari saat ayat Q.4:157 diturunkan.

Bahwa mereka adalah keturunan dari leluhur nya yang kafir terhadap Yesus Kristus, tetap melakukan upaya dengan tipu muslihat bertujuan menghasut semua orang di zaman itu !

Di sinilah kedua belah pihak pada umumnya baik orang Mumin apalagi orang Nasrani tidak memahami hal tersebut !

Jadi kalau semua orang termasuk Nasrani dan terutama Muslim (pemegang Kitab Al Quran) memahami hal tersebut, dengan demikian tidak ada lagi orang yang berdebat karena ter pancing ulah / upaya orang kafir dan tidak pula ada yang tertipu olehnya !

Karena dengan jelas Q.4:156 & 157 menggambarkan situasi yang memprihatinkan, dimana banyaknya korban pembohongan di zaman itu, sehingga jelas di zaman itu begitu rapuh nya keyakinan manusia akan kebenaran Injil yaitu di sekitar wilayah Al Quran diturunkan, dimana Al Quran untuk menegakkan kembali kebenaran sejarah terdahulu dengan memberikan penerangan apa adanya, tentang ucapan orang-orang yang terpengaruh kebohongan, jadi Allah menurunkan Q.4:157, bersifat netral terserah kepada masing-masing pribadi manusia memilih dengan akalnya, mau percaya yang mana ?

Kami ingatkan beberapa penegasan yang terdapat di Q.4:156 & 157, yaitu :

- 1- Al Quran di Q.4:157 menegaskan kembali keadaan di zaman itu dimana mereka dalam keragu-raguan !

-2- Al Quran di Q.4:157 membuktikan karena ucapan merekasehingga ceritanya pun hanya bagi mereka yang kafir !

-3- Al Quran di Q.4:156, sangat jelas menegaskan bahwa merekadi zaman itu justru adalah orang yang kafir terhadap "Isa" (gambaran Yesus) bukan kafir terhadap Allah.

-4- jadi Q.4:156 merupakan kunci pegangan bagi pembaca untuk mengingatkan, akan sumber cerita tersebut !


Oleh karena kisah di dalam Injil, sumber pencetus awal kebohongan untuk menyangkal penyaliban Yesus, dilakukan oleh penguasa besar Mahkamah Agama di zaman itu, sehingga ayat Al Quran dengan makna isi cerita yang ada di Q.4:156 yang bermakna sebuah "Isarat" akan sumbernya saja sudah dibantah mereka, sehingga dalam ayat tersebut tersirat kalimat yaitu: ....... tuduhan........dengan "kedustaan besar".

Jadi perlu diperhatikan !

Bahwa Q.4:157 bukan kisah penyaliban Yesus Kristus, sebab sebuah kisah pasti bersumber dari saksi hidup.
Sehingga Q.4:157 diturunkan di zaman itu, makna dari isinya hanya cerita dari ucapan mereka yang kafir !”
Pada saat ayat tersebut diturunkan, jelas belum ada pengikut Rasul Muhammad (agama Islam).
Sebab ayat tersebut pertama-tama yang menerima hanya Rasul Muhammad dan isinya seperti itu adanya.

Karena Allah Maha Tahu akan kedengkian hati setiap orang, dan karena Allah Maha Pengasih terhadap umat manusia, sehingga di zaman itu begitu pentingnya Allah menurunkan Q.4: 156 - 157 kepada Rasul Muhammad dengan maksud supaya para pengikut Rasul harus membaca ayat tersebut, sebagai pelajaran dan peringatan: agar para pengikut Rasul Muhammad waspada, jangan sampai ter tipu oleh “ucapan mereka orang kafir”.

“PERHATIAN”

Jika Q.4:157 tidak dipahami, maka selamanya timbul perbedaan pandangan yang tidak akan berkesudahan !”

Q.4:156 & 157 merupakan kebebasan manusia yang diberikan Allah untuk memilih pemahaman secara pribadi. Hal itu sudah tersirat di Q.42 : 8

Mulai zaman itu Q.4 : 157 bermakna sebuah “ informasi penting yang ter samar ”, sehingga ter abaikan.
Jadi sebenarnya sejak Al Quran diturunkan di zaman itu, bahwa Q.4 :156 & 157 tanpa disadari merupakan sebuah gambaran isarat , yang bertujuan untuk mewujudkan bersatu nya umat Allah ! / Q.42:8

Hal itu tersirat di Q42:8, kalau Allah mau menyatukan Umat manusia pasti sangat bisa, akan tetapi manusia diberi kebebasan untuk memilih.

Dimana ayat tersebut Q.4:156-157 menggambarkan kedustaan besar manusia (mereka) di zaman itu dan makna dari isi ayat tersebut untuk menguji insting pembaca terhadap penilaian mana yang benar dan mana yang salah.

Jadi dari penjelasan semua tentang Q.4:156-157 diatas, maka dapat disimpulkan bahwa para pembaca Al Quran tinggal memilih makna / pengertian dari ayat tersebut, apakah pembaca mau percaya / mengikuti perkataan mereka orang-orang kafir yang diancam dengan hukuman neraka, atau mau percaya / mengikuti kebenaran yang hakiki, sehingga ditinggikan dari mereka yang kafir seperti sudah dijelaskan dengan tegas tergambar di Q.19:33 dan Q.3:55.

Dari hal itu semua jelas bahwa para pembaca / orang Mumin berada pada posisi Netral, sehingga dengan bebas untuk memilih mau mengikuti yang mana ?

Kalau kita sudah mengambil keputusan percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan mereka seperti di ayat tersebut, walaupun sadar atau tidak disadari, berarti itu'lah yang kita pilih dalam hidup ini, oleh karena itu ada tertulis :

"Iman mu menyelamatkan mu" !

Dengan demikian Q.4:156-157 jika dianalisa lebih mendalam, merupakan pelajaran dasar yang bersifat penting untuk memahami sosok yang selalu di sebut orang kafir dalam ayat-ayat Al Quran

Oleh karena itu, tanpa membaca Injil Kristus dan memahami sejarah, maka semua umat Mumin tidak akan paham mengapa dalam Al Quran hanya nama Yesus Kristus saja yang ada di Injil, harus berubah dengan nama “Isa” ?


Sedangkan nama nabi-nabi yang ada dalam Kitab Taurat ditulis dengan nama aslinya !




Ket: Dimana nama asli dari seseorang pasti tidak  akan pernah berubah bunyinya walaupun ditulis dalam bahasa apapun!, apalagi orang tersebut sudah meninggalkan dunia nyata / alam zhahir.
Jadi menyangkut nama seseorang tidak dapat diterjemahkan kedalam suatu bahasa !

Oleh karena itu janganlah mengada-ada dengan alibi bahwa nama Yesus Kristus adalah dalam bahasa Ibrani atau Yunani, sebab siapapun orangnya apabila dilahirkan dalam sebuah daerah/Negara maka nama asli” orang tersebut tidak akan  drastis berubah bunyinya sekalipun dia  merantau ke ujung dunia.
Apalagi jika orang tersebut sudah tidak ada lagi di dalam dunia nyata / alam zhahir dan dikemudian hari ditulis kembali sejarah kehidupannya maka namanyapun sangat   tidak lazim diganti.

Contoh: Rasul Muhammad lebih dari 1000 tahun sampai sekarang namanya tidak berubah ! 




Jika kita sudah memahami itu semua, maka kita akan tahu bahwa di Injil, Yesus Kristus di Salib dan di dalam Kitab Al Quran memang tidak akan mungkin ada keterangan bahwa nabi Isa disalib, apalagi akan datang dihari kiamat !
.
Di sinilah suatu kekeliruan besar kalau ada orang yang menyamakan "Isa" dengan "Yesus Kristus" !

Kekeliruan itulah penyebab timbulnya perdebatan tentang "Siapa yang disalib ?" hingga saat ini.


Oleh karena itu pada hakekatnya sosok dengan NAMA "Isa" di Al Quran tidak bisa disamakan terhadap sosok dengan NAMA "Yesus Kristus" di Injil !
Tetapi kalau sekedar Isa di Al Quran adalah gambaran Yesus hal itu boleh-boleh saja, karena di Al Quran tertulis “Isa dengan Injilnya !”




Ket:
Walaupun kedua nama tersebut untuk satu tokoh yang sama karena masing-masing menyinggung tentang Injil, tetapi "Kharisma" dari masing-masing nama tersebut berbeda!  

Oleh karena itu nama Isa yang tertulis di dalam Al Quran bukanlah Yesus Kristus yang sesungguhnya, tetapi hanyalah figur / gambaran Yesus Kristus dari sudut pandang manusia biasa saja pada saat Dia berada di dunia / alam zhahir.
Dengan demikian bagi orang yang hanya membaca Al Quran saja maka sudah tertanam dalam benaknya secara permanen dengan pengertian bahwa "Isa nabi pembawa injil" hanya manusia biasa saja, sehingga yang bersangkutan memandang Yesus Kristus-pun "disaat ini" hanyalah manusia biasa saja.

Oleh karena itu yang bersangkutan sangat sulit untuk memahami siapa 
"Yesus Kristus yang sesungguhnya" disaat sekarang ini dan nanti !
Jadi jelas kalau kita memandang Yesus di masa silam  disaat berada di alam nyata dunia maka kita hanya melihat dari sudut pandang manusia biasa saja.

Tetapi setelah Yesus Kristus bangkit dan meninggalkan pesan ke-Illahian bahwa Dia nanti akan datang kembali ke-dunia untuk mengumpulkan semua orang (seperti yang diyakini umat Mu’min:  “Isa akan datang di akhir zaman), maka jelas bahwa Dia adalah “Manusia Illahi” yang tidak lain kita sekarang disarankan untuk  menyebutNya (tersirat di Q.34:26) Katakanlah:  “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, ……… ”.

Jadi yang harus diperhatikan: Bahwa Al Quran diturunkan 600 tahun setelah Yesus Kristus disebut Tuhan bagi yang sudah percaya, oleh karena itu Q34:26 menjelaskan lagi secara "NETRAL" tidak menyebut namaNya tetapi statusnya saja yaitu: Tuhan.

Dengan demikian karena Allah Maha Tahu maka tidak mungkin ada kesalahan pada Al Quran kalau nama Isa disebut nabi pembawa Injil, karena tidak mungkin lagi mengatakan dengan sebutan "nabi Yesus" karena 600 tahun sebelum ada Al Quran semua orang yang percaya bahwa Yesus Kristus sudah bangkit dari antara orang mati dan kembali ke asalNya (Sorga), maka mereka sadar bahwa "Dia" adalah Tuhan

Karena  Al Quran diturunkan setelah sekian lamanya peristiwa kebangkitan Yesus Kristus ke asalNya (sorga). Maka di dalam ayat Al Quran untuk mengisahkan kembali masing-masing nabi di zaman dahulu seperti nabi Musa dengan kitab Taurat, sedangkan untuk mengisahkan kembali nama  tokoh utama terhadap  kitab Injil tidak mukin lagi memakai nama asli Yesus Kristus. Oleh karena hal itu maka harus memakai nama samaran (Isa) oleh karena itu ayat-ayat tentang Isa disebut "Mutasyabihat" / samar-samar (Q.3:7)





Dengan adanya perbedaan nama Yesus menjadi Isa  maka bagi yang hanya membaca Al Quran saja tidak mengetahui bahwa tokoh pembawa Injil yang sesungguhnya sudah "bangkit dari kubur" kembali ke sorga (karena Dia adalah Tuhan) dan ditambah terbawa "ucapan diserupai" dalam ayat Q.4:157, dari keadaan tersebut menimbulkan  sudut pandang yang berbeda bagi semua orang Mu'min  terhadap "Tokoh utama" dari sebuah kisah nyata yang tertulis di dalam Injil Kristus.

Karena ketidak tahuan tersebut, maka tidak di herankan semua orang Mu'min kalau ditanya tentang gambar / lukisan wajah Yesus Kristus, pasti tidak ada satupun yang menyebutnya "nabi Yesus" tetapi menyebutnya "Nabi Isa", hal itupun tidak dipersalahkan karena memang Yesus Kristus disaat ini tidak lazim lagi  disebut nabi  tetapi layaknya disebut "Tuhan Yesus Kristus", karena waktu Dia masih sebagai Manusia Dia berjanji akan datang lagi dan mengumpulkan semua orang diakhir zaman, karena janji tersebut maka ayat Al Quran (Q.34:25) menyarankan dengan menyebut: "Tuhan kita", itulah salah satu makna Al Quran untuk menegakkan kebenaran yaitu sesuatu yang memang sudah benar !

Oleh karena itu kita harus tahu:
Siapa Isa dalam Al Quran ?  Siapa Yesus dalam Injil ?

Isa di Al Quran gambaran Yesus Kristus dari sudut pandang sosok manusia, sehingga disebut “rasul”. Yesus di Injil bisa juga disebut rasul karena Injil  kisah  Yesus diwaktu sebagai manusia, sedangkan sekarang dan nanti Yesus Kristus disebut Tuhan kita karena Dia yang mengumpulkan kita (Q.34:25).

Kalu tidak memahami hal itu maka akan menjadi dilema dari generasi kegenerasi !



Oleh karena itu kalau kita perhatikan dengan extra hati-hati dan teliti maka jelas bahwa Al Quran diturunkan dizaman itu untuk orang-orang yang belum mengenal Tuhannya tetapi sudah percaya kepada Allah Sang Haliq.

Jadi masalah yang timbul dari generasi ke generasi disebabkan karena semua orang Mu’min pemegang Al Quran menelan mentah-mentah pengertian dari kalimat: Tiada Tuhan selain Allah”, sehingga menolak keTuhan-an Yesus Kristus hingga saat ini.
Sedangkan Al Quran diturunkan supaya orang-orang Mu’min mulai dizaman itu mempelajarinya supaya tahu siapa Tuhanmu itu!

Contoh salah satu ayat dalam Al Quran (di surat AL A’RAAF  ayat 206) yang menyatakan bahwa ada “sosok Tuhan” selain Allah Sang Haliq (yang tidak pernah dilihat oleh manusia sejak dunia dijadikan).

Q.7:206, yaitu; Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di  sisi  Tuhanmu  tidaklah  enggan  menyembah  Allah  dan  mereka  mentas-bihkan-Nya   dan  hanya  kepada-Nyalah mereka bersujud.

Jadi jelas dalam ayat tersebut (Q.7:206) timbul beberapa pertanyaan:
Siapakah Tuhan  yang dikelilingi para malaikat ?
Siapakah Allah  yang disembah, oleh malaikat-malaikat yang berada disisi Tuhanmu?
Jadi: Siapakah Tuhanmu dan siapa Allah?

Kalau pembaca sudah mempelajarinya maka jelas bahwa selain keberadaan Allah  adapula keberadaan sosok Tuhan yang dikelilingi para malaikat seperti kenyataan  dari isi Q.7:206, kalau pembaca tidak mau mengakui hal itu berarti pembaca mendustakanNya, karena sudah tertulis pada ayat Al Quran sendiri yang diAgungkannya, hal itu tidak diherankan karena “Allah Yang Maha Tahu” sehingga sudah mengetahui akan terjadi pendustaan tersebut (tersirat di Q.69:48-49-50), maka dikemudian hari para pemegang Al Quran (orang Mu’min) akan  menyesali Al Qurannya  karena diwaktu masih hidup di dunia tidak mau mengakui adanya sosok Tuhan sehingga dengan sadar kafir terhadap Tuhanmu tersebut.

Q.69:48; Dan sesungguhnya  Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi  orang-orang yang bertakwa.
Q.69:49; Dan  sesungguhnya  Kami  benar-benar  mengetahui  bahwa  di  antara  kamu  ada  orang  yang mendustakan(Nya).
Q.69:50; Dan  sesungguhnya  Al Quran itu benar-benar  menjadi  penyesalan  bagi  orang-orang  kafir  (di  akhirat).

Ingat: “Allah Maha Adil”, “Maha Adil”, “Maha Adil”, maka tidak akan mungkin  Al Quran diturunkan membuat orang-orang Kristen (orang-orang yang bukan pemegang Al Quran) ikut-ikut menyesali Al Quran.

Jadi jelas siapa yang disebut kafir diakhirat nanti, yaitu hanya para pemegangnya saja yang keliru sehingga kafir kepada Tuhan yang telah diberi kuasa atas sorga dan bumi, yang tidak lain "Dialah" satu-satunya  yang terkemuka di dunia dan akhirat ! (tersamar di Q.3:45).







Oleh karena  Al Quran diturunkan di jazira arab dan dilingkungan keturunan kaum Yahudi yang mayoritas kafir / membenci nama Yesus Kristus,   maka untuk nabi pembawa Injil di dalam  Al Quran bukan memakai nama asli seperti di Injil (Yesus Kristus) , tetapi  dengan memakai nama “Isa” dan berbahasa arab karena hanya untuk  di jazira arab saja (Q.19:97), sehingga awal mulanya  Al Quran ditujukan  untuk kaum berserah diri (kaum Mu’min) di wilayah itu, dengan makna sebagai petunjuk supaya  kaum Mu’min yang masih berpikiran netral akan tahu siapa Tuhanmu, dan sebagai peringatan akan hukuman kelak di akhirat jika membangkang  /menyangkal Tuhanmu !

Q.19:97 ;  Maka sesungguhnya telah kami mudahkan  Al Quran  itu  dengan bahasamu, agar kamu dapat memberikan kabar  gembira  dengan Al Quran itu  kepada  orang-orang  yang  bertakwa,  dan  agar  kamu  memberikan  peringatan  dengannya  kepada  kaum  yang  membangkang.

Makna ayat diatas jelas tertulis  “kabar gembira”  dimana kabar gembira artinya kabar baik yang tidak lain adalah Injil keselamatan, dengan demikian segala ayat dalam Al Quran yang berhubungan dengan sososk “Isa” berarti berhubungan dengan gambaran dari pada Injil   (karena Isa dengan Injilnya).

Jadi jelas dalam ayat tersebut (Q.19:97) tersirat bahwa sebelum Al Quran diturunkan berarti sudah ada kaum yang membangkang terhadap Injil atau “kabar gembira”.


Akan tetapi kalau kita umat Mumin menyamakan "Isa" di Al Quran dengan "Yesus Kristus " di Injil, maka tanpa kita sadari bahwa Al Quran telah menyatakan dengan tegas di Q.4:156-157, yaitu "mereka" adalah orang yang kafir terhadap "Isa", berarti kita harus mengakui juga bahwa "mereka" sama saja kafir terhadap "Yesus Kristus".

Jadi kalau kita berkeras untuk menyamakan "Isa" dengan "Yesus" maka dengan demikian tanpa disadari juga, bahwa kita secara tidak langsung mengakui sejak zaman itu apa yang di sebut "orang kafir" yang tertulis dalam Al Quran yaitu orang yang kafir terhadap "Yesus Kristus" juga !

Oleh sebab itu melalui ayat tersebut (Q.4:156-157) merupakan petunjuk yang ter samar, agar semua pembaca yang mengkaji mau berpikir supaya dapat memahami perkataan Allah yang disampaikan Jibril di ayat yang lainnya dalam Al Qur-an yaitu : mengapa dalam Al Quran kebanyakan tertulis orang yang kafir hanya terhadap "Tuhannya" ?

Jadi hanya orang yang mau berpikiran dengan "akalnya" yang dapat memahami semua perkataan Allah yang disampaikan Jibril tentang siapa Tuhannya yang tertulis di Al Quran.

Karena itu selalu ditegaskan berulang-ulang di dalam Al Quran bahwa
"Allah Maha Tahu",
jadi dalam Kitab Suci apapun tidak mungkin ada kekeliruan dalam hal "Hak" atas "NAMA" siapa yang disebut, dasar dari pemahaman inilah yang tidak dimengerti oleh hampir semua orang.

Sehingga membuahkan perbantahan terus menerus antara Muslim dan Nasrani.

Maka perlu kita renung kan bahwa kedua agama tersebut di ibarat kan bagaikan dua sisi roda kereta api yang terpisah jarak antara depan dan belakang, tetapi berjalan selalu searah dalam satu lintasan !

Jadi disimpulkan bahwa Injil dan Al Quran benar adanya, bahwa masing-masing kitab tersebut berisi tentang kenyataan akan peristiwa dan situasi sesuai dengan zaman nya masing-masing.


Dimana Kitab Injil mengisahkan pristiwa penyaliban Yesus Kristus, sedangkan Kitab Al Quran di zaman itu secara tersamar membenarkan tentang peristiwa penyaliban Yesus Kristus 600 tahun yang lalu, hanya saja dengan cara menjelaskan situasi dimana orang-orang saat itu masih banyak yang tidak yakin akan pristiwa penyaliban dimasa lalu, sehingga Al Quran menekankan dengan tegas bahwa mereka yang tidak yakin itu terbilang / tergolong orang KAFIR ! Q.4.156-157.

Oleh karena itu kami ingatkan lagi, bahwa pengertian dari kesimpulan yang telah dijabarkan diatas pasti tidak dipahami oleh Anda bahkan hampir semua orang Mumin apalagi orang Nasrani/Kristen !


Kesimpulan:
Injil:  Kisah nyata peristiwa penyaliban.
Al QuranMenceritakan situasi  perdebatan tentang peristiwa penyaliban.


Injil merupakan hasil catatan  langsung peristiwa penyaliban Yesus Kristus dizaman itu.
Al Quran menjelaskan  “karena ucapan mereka” yang percaya dan yang kafir terhadap peristiwa penyaliban masa lalu.


jadi sebenarnya kalau kita mau memahaminya, maka antara kedua Kitab tersebut (Injil & Al Quran) tidak ada yang saling bersinggungan, sebab pada dasarnya masing-masing Kitab tersebut mengisahkan / menceritakan akan peristiwa dan situasi yang terjadi sesuai dengan lintasan waktu yang dilalui nya.

Dengan demikian jelas dan nyata NAMA nabi Isa di Al Quran tidak akan pernah disalib, tetapi yang disalib NAMA Yesus Kristus seperti kisahNya tertulis di dalam Injil Kristus yang terlebih dahulu sudah ada, yaitu 600 tahun sebelum Al Quran diturunkan.


Oleh karena itu apabila umat Nasrani/Kristen mengatakan "Isa" disalib, itu suatu kesalahan besar !
.
Begitu pula apabila umat Islam mengatakan "Yesus Kristus" tidak disalib, itu suatu kesalahan yang lebih besar lagi !


Kesimpulan tersebut diatas tidak pernah dimengerti oleh kedua belah pihak (Nasrani/Kristen dan Islam), karena hampir semua orang pada umumnya meremehkan pengertian yang hakiki akan maksud dan tujuan dari Al Quran diturunkan di zaman itu.

Sehingga selalu timbul perdebatan tentang siapa yang disalib, hal itu karena mereka sudah menyimpang dari relnya ( "yang hak").

Oleh karena hampir semua orang salah persepsi sehingga saling tuduh dan saling meragukan Kitab orang lain, jadi sekarang di akhir zaman ini kita semua tidak ubah nya seperti keadaan "mereka" yaitu orang-orang yang hidup di zaman dahulu di wilayah Al Quran diturunkan !


Perlu dipahami lagi !

Sejak  Al Quran diturunkan, kemudian kisah nabi pembawa Injil tidak memakai nama asli (Yesus Kristus yang sudah tertulis 600 tahun sebelum ada Al Quran) maka hampir semua  pembaca Al Quran terpola dalam pikirannya bahwa sosok nabi dengan nama Isa hanya gambaran seorang manusia biasa saja seperti kita.
Sehingga semua pembaca Al Quran sulit untuk mengakui bahwa sejak bangkit, sekarang  dan nanti  Yesus Kristus  sudah disebut  “Tuhan dan juru selamat manusia”,  jadi jelas  mulai saat itulah  terjadinya penyangkalan / penolakan untuk menyebut "Yesus Kristus Tuhan"!
Jadi tidak heran sampai dengan hari ini penyangkalan / penolakan tersebut hanya datang dari  para pemegang kitab Al Quran saja !

Penyangkalan tersebut tidak dapat disalahkan semata bagi pembacanya, sebab dalam Al Quran berisi pernyataan dari “Isa” sendiri  tentang larangan dirinya  untuk disembah, yaitu  “Isa” berkata: bahwa aku hanya hamba sama seperti kamu.

Jadi pernyataan “Isa” tersebut memang benar dan nyata bahwa apa yang tertulis dalam Al Quran  merupakan jejak rekam dari  perkataan  Yesus Kristus sendiri  kepada salah seorang muridNya yaitu Yohanes, yang tertulis dalam kitab Wahyu.22:9, sebuah  kesaksian dari kisah nyata yang memang dialami oleh Yohanes sendiri.

Disinilah bagi semua orang yang membaca Al Quran, jika menelan mentah-mentah pernyataan dari “Isa” sendiri yang  tertulis di Al Quran atau perkataan dari “Yesus Kristus” sendiri yang tertulis di kitab Wahyu.22:9, maka jelas bagi orang Mu’min / Islam yang hanya baca Al Quran menjadi  tidak mau bahkan menolak mentah-mentah untuk menyembah Yesus Kristus, begitu pula orang Kristen-pun banyak yang bingung akan pernyataan yang dikatakan Yesus Kristus sendiri dalam kitab Wahyu di ayat tersebut !

Jadi  ketidak pahaman tentang  hal itu tidak perlu diherankan sebab hampir semua orang apapun agamanya kalau membaca kitab suci hanya mengandalkan pikirannya sendiri yang tidak lain hanya dari sudut pandang dunia nyata saja, sehingga sulit untuk membedakan antara yang zhahir dan yang bathin.


Coba kita perhatian tentang pernyataan “Isa” di Al Quran dan perkataan Yesus Kristus di kitab Wahyu:

1. Pernyataan  dari  Isa  yang tertulis di Al Quran memang sama dengan apa yang dikatakan Yesus  bahwa diriNya  tidak boleh disembah, berarti kesaksian  oleh  Yohanes di kitab Wahyu  dibenarkan dalam kitab  Al Quran.
Itulah salah satu bukti kebenaran isi dari Al Quran surat 12:111, yaitu; ... . Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya........ .

2.  Inilah yang perlu dipahami, bahwa memang pernyataan Isa di Al Quran terlebih dahulu sudah dikatakan oleh Yesus Kristus (600 tahun sebelum ada Al Quran).  Tetapi perkataan tersebut waktu itu diucapkan kepada Yohanes pada saat  roh jiwanya dibawa malaikat untuk bertemu Yesus Kristus  yang posisiNya  sudah berada di Sorga, sehingga pada saat Yohanes tersungkur di depan kaki malaikat untuk menyembahNya, maka Yesus Kristus-pun berkata melarang diriNya untuk disembah, sebab di Sorga  disisi  "Dia(Yesus)"   ada   "Allah Yang Maha Tinggi”!
Ket: Mengapa  Yohanes tersungkur / terjatuh ? )
( Sebab tidak layak baginya untuk mendekati Yesus Kristus yang sudah berada di Sorga Yang Maha Suci )

Contoh ilustrasi : Jika anda seorang warga suatu daerah kemudian diundang oleh seorang gubernur yang bersangkutan untuk datang ke “Istana Negara”, disaat anda sampai di Istana kemudian berjumpa dengan gubernur  tersebut (yang telah "berjanji") untuk melakukan hormat kepadanya, maka jelas gubernur tersebut  berkata untuk melarang anda hormat kepadanya karena saat itu  di  “Istana Negara”  ada sosok “Presiden” yang lebih tinggi jabatannya.


Itulah ilustrasi yang menggambarkan mengapa Yesus melarang diriNya untuk disembah, jadi kalau kita asal baca saja semua kitab tanpa didasari hati yang tulus dan teliti maka kita tidak memahami  kebenaran dari duduk persoalan yang  sebenarnya nyata.

Jadi pada waktu itu kalimat tersebut yang diucapkan  “Yesus Kristus”, membuktikan kebenaran bahwa Yesus Kristus  telah diberikan kuasa di dunia dan akhirat yaitu berkuasa terhadap roh jiwa manusia di dunia untuk membawanya ke-tempat yang dijanjikanNya / di akhirat  (tertulis di Matius.28:18 Yohanes.14:3 serta tersirat di Q.3:45Q.23:29), dan kesaksian  yang dialami oleh  Yohanes tertulis di kitab Wahyu  tentang  "larangan Yesus Kristus  untuk disembah"  hal itu merupakan "pemberitahuan tersamar" bahwa :  Adanya  dua oknum yaitu  “keberadaan   Dia / Tuhan  dan adanya keberadaan Allah Sang Haliq” tersirat di Q.7:206Q.26:213.

Dengan demikian yang tertulis di Al Quran bahwa “Isa” berada disisi Allah karena dia saja yang tahu hari kiamat (Q.31:34 - Q.43:61) yaitu untuk membenarkan bahwa Yesus Kristus berada di sebelah kanan Allah Bapa di sorga.

Oleh karena itu kesaksian Yohanes di kitab Wahyu bermakna nubuat / yang akan terjadi dan untuk membuktikan pesan dan "janji" yang pernah dikatakan  Yesus Kristus pada saat "Dia" masih hidup berdampingan dengan manusia di dunia nyata / alam zhahir.
(di Yohanes 14:1-3) :
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.

Jadi jelas  bagi orang yang sudah paham akan kedua kitab tersebut, berpendapat bahwa: sebagian ayat ayat penting dalam Al Quran yang menyinggung tentang “isa” (gambaran Yesus) tidak bertentangan dengan Injil.



Akan tetapi karena semua ayat Al Quran yang bertujuan membenarkan isi dari Injil (kitab sebelumnya) bersifat samar-samar yaitu tertulis hanya sepenggal saja kalimat dari ayat Injil, maka bagi umat yang tidak mau membaca Injil, ayat-ayat tersebut bisa menimbulkan kekeliruan dan bisa menimbulkan keraguan bahkan menyangkal atau kafir kepada Tuhan Yesus Kristus.

Hal itu tidak diherankan sebab sudah tersirat di dalam Al Quran  di Q.5:68; Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) akan menambah kedurhakaan dan kekafiran…. .




Di sinilah yang harus kita ketahui tentang "Misteri sebuah NAMA" di dalam Kitab Suci !
Kalau Anda mau mengetahuinya kunjungi: http://misterigaib.blogspot.com/



Jadi yang perlu dipahami bahwa
setelah Al Quran beredar keseluruh dunia, dari awalnya

"nama nabi pembawa Injil" tidak ditulis dengan "nama aslinya".
Maka mulai saat itulah timbul sebuah dilemma bagi hampir semua orang yang hanya membaca Al Quran saja.
Sehingga memperdebatkan lagi
 "siapa Tuhanmu !"
Bukan siapa Allahmu yang dipermasalahkan !

Dengan demikian kalau semua orang memahami begitu pentingnya
arti yang "HAK" dari sebuah nama disaat menyebut statusnya,
maka perdebatan antara Al Quran dan Injil tidak akan pernah terjadi lagi !

Sebab jelas sejak Al Quran diturunkan sampai hari ini bahwa ;
nama "Isa Al Masih" hanya untuk nama seseorang dalam "kisah manusia suci" / nabi pembawa Injil.
Sedangkan sekarang dan nanti nama  "Yesus Kristus" sebutan untuk nama Tuhanmu !

Oleh karena Al Quran kitab yang Hak maka cerita tentang
Isa Al Masih tidak mungkin sama dengan kisah Yesus Kristus
Sebab Allah Maha Tahu kepada nama siapa yang berhak di sebut “Tuhan”.

Itulah sebabnya kita harus tahu;
Siapa nabi Isa dalam Al Quran !  Siapa Yesus Kristus dalam Injil !
Kalau tidak tahu maka semua orang jadi bingung dan bertanya-tanya.
Mengapa Allah Yang Maha Bijaksana, hubungan umatNya (Islam-Kristen)
sampai dengan hari ini saling berseteru setelah Al Quran diturunkan ?



Mulai saat ini kami "ingatkan" ( mohon maaf).
Bahwa semua para pemegang Kitab Suci masing-masing ( pemegang Injil dan pemegang Al Quran) hanya tahu Kitabnya saja !
Dimana sifat manusia: 
"Akulah yang paling benar !"
Akibatnya :
Sekarang ini banyak manusia yang emosi akibat ter pancing oleh tipu muslihat "orang kafir di zaman dulu" sehingga kerjanya berdebat terus...terus....terus dari generasi sampai generasi berikutnya tanpa henti, hanya untuk mempertahankan pendapatnya.
.

Sekarang ini tanpa sadar banyak manusia yang tertipu, karena menelan mentah-mentah sehingga termakan tipu muslihat "orang kafir di zaman dulu", yang berakibat mereka tanpa sadar telah kafir / menyangkal Tuhannya sendiri !


Jadi sekalipun Pembesar / pemuka dari agama apapun kalau masih memandang bahwa kedua Kitab Al Quran dan Injil bertentangan, berarti mereka belum memahami apa yang ada dalam Kitabnya masing-masing.

Sehingga mereka masih ter kecoh akan realita dari makna yang ada dalam masin-masing Kitab-kitab tersebut, terutama jika mereka membandingkan antara Kitabnya dengan Kitab yang lainnya.

Jadi kalau kita tidak memahami isi dan sejarah dari setiap Kitab yang bersangkutan, maka janganlah kita berkomentar jelek tentang kebenaran Kitab apapun.

Apalagi kalau kita tidak pernah membacanya untuk dipelajari / dianalisa lebih mendalam, dan bukan untuk dibanding-bandingkan mencari kekurangan, sebab Allah pun Maha Pengasih tidak pernah membanding-bandingkan siapapun manusia dan Kitab yang di yakini nya (tersirat di Q.5:69).
.
Oleh karena itu sampai kapanpun dan apapun agamanya, kalau orang memandang Kitab orang lain dari sudut pandang Kitabnya sendiri, maka tidak dapat menemui titik temu !


Sekali lagi kami ingatkan !
Dimana semua Kitab diturunkan sesuai zaman nya,
karena "Allah Maha Tahudan "Allah Maha Bijaksana",
jadi Allah menurunkan semua Kitab-kitabNYA tidak mungkin bertujuan akan membuat kelompok manusia di kemudian hari saling berdebat apalagi bermusuhan !

Akan tetapi, ironisnya yang terjadi sekarang ini akibat dari :
"Manusia yang Terlampau Tahu "

Sehingga hampir setiap orang pemegang Kitab, hanya membenarkan ayat-ayat dalam Kitabnya masing-masing, maka berakibat "Fanatisme diri" masing-masing.

Dengan demikian apabila masih ada manusia yang meremehkan Kitab orang lain berarti meremehkan juga Kitabnya sendiri.
.
Ingat "Sifat ALLAH MAHA BIJAK" tidak berubah dari awal sampai kini !

Begitu pula "Sifat Syaitan tidak berubah dari dulu, raja bohong, dan penyesat manusia sampai kini !
(ditegaskan di Q.25:29)

Oleh karena itu kita harus hati-hati dalam membaca Kitab Suci.


Karena Allah sudah menegaskan dalam KitabNYA, bahwa hanya satu tokoh saja pemeran "EPISODE PENYALIBAN " memang harus menjadi suatu momok
" perbantahan " sejak zaman dahulu.


Jadi sekarang ini kita harus sadari apakah kita termasuk para pemeran tokoh
dari kisah yang bersambung tersebut ?

Dimana saat ini, kita sedang memasuki lintasan


"EPISODE PERBANTAHAN".


Hal itu memang sudah ter perediksi kan, sehingga tergambar secara tertulis
sejak zaman dahulu di:
Injil Lukas. 2 : 34
Yaitu : ..... "Sesungguhnya anak ini (Yesus).....
.........untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan

600 tahun kemudian
Al Quran. 19 : 34, menegaskan lagi bahwa apa yang tertulis di
Injil Lukas 2 : 34 telah terjadi !

Q.19:34: Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantah tentang kebenarannya.

Jadi kalau kita sudah mengerti makna dari kedua Kitab tersebut,
maka kita akan menyimpul kan bahwa Injil dan Al Quran
tidak saling bersinggungan.
Sebab : zaman nya saja sudah berbeda.


Injil berisi Kisah Peristiwa dari satu tokoh.
Al Quran berisi cerita akan situasi dari banyak tokoh, yang tergambar :Q.4:157
Tentang keadaan di zaman itu sudah ada orang-orang yang berbantah-bantahan
akan peristiwa penyaliban yang telah berlalu 600 tahun silam.


Kebenaran dari kedua Kitab tersebut nyata.
Sebab masing-masing Kitab mengandung sejarah kehidupan akan keyakinan manusia terhadap kuasa Allah, di sekitar wilayah dimana isi Kitab yang bersangkutan ditulis, sesuai dengan zaman nya masing-masing.
Akan tetapi karena sifat ego dari manusia, sehingga tidak mau tahu
duduk dari persoalan tersebut yang sebenarnya.

Coba kita pikirkan sejenak !

Kebenaran Al Quran ayat 4:156-157 dengan nyata membuktikan bahwa
di zaman dulu saja di saat Al Quran di turunkan, yaitu 600 tahun setelah
peristiwa penyaliban, sudah banyak orang-orang yang menyangkal
peristiwa tersebut !!!

Apalagi sekarang ini !

dimana jelas waktu sudah bertambah, maka seiring dengan berjalannya waktu pasti semakin bertambah juga anak cucu Adam yang menyangkal
peristiwa penyaliban !!!!!


Jadi jangan heran kalau di zaman sekarang ini

" EPISODE PENYALIBAN "

tetap menjadi bahan " PERDEBATAN "
yang di lakukan oleh banyak orang di seluruh dunia /
INTERNASIONAL !

.
Sekali lagi mohon maaf sebelumnya.
Kalau Anda-anda mau memahami itu semua, silahkan kunjungi Blog kami yang telah tersedia.
.
Tetapi perlu kami ingatkan !
Blog kami bukan pelajaran agama !

Jadi hanya orang yang berAkal dan berjiwa besar serta dilandasi fitrah diri, yang kami tawarkan untuk berkunjung ke Blog kami.

Kalau sudah siap dan mau tahu lebih jelas,
kunjungi :







Terima kasih atas kesempatan anda membaca tulisan ini.
Tulisan ini kami sajikan bukan untuk bahan perdebatan !
Akan tetapi sebagai bahan pemikiran yang berdasarkan kenyataan.

Sebab, memang kenyataan itu lah yang ada dalam Kitab Anda masing-masing.

Ref: Al Quran Dept Agama RI 1982 & Injil (LAI 1971).

.©2006 siapa Isa.

Penulis